Kabar Mengejutkan, Majalah Hai Bakal Tutup

otodigest.com – Agak di luar konteks otomotif nih, Bang! Dua hari lalu dengar kabar bahwa Majalah Hai akan tutup. Deg! Kaget dah! Majalah lejen untuk kaum remaja ini sudah dikenal luas dan membekas bagi sesiapa pun terutama kelahiran 70-an. Katanya terbit terakhir bulan depan.

Kalau benar, maka bertambahlah daftar media cetak yang tutup. Apakah ini terpaan era digital? Yup, benar sekali. Kini, semua informasi bisa sekali klik di hape! Bahkan majalah pun sudah digitalisasi. Pagi terbit versi cetak langsung versi pdf-nya bisa dinikmati dimana saja kapan saja tanpa perlu beban tambahan.

Buat aye sendiri, Balada Si Roy, dan Lupus menjadi kenangan tersendiri. Setiap loper koran datang ngirim Hai, yang langsung dibaca tidak lain Lupus. Lupus mengingatkan aye cara makan permen karet ditiup jadi balon. Lalu rambut jambul model Duran-duran. Ngangeni kata orang Jawa. Eh, tau gak apa itu Duran-duran? Itu tuh, yang nama vokalisnya Simon Le Bon dan Basisnya John Taylor. Nah, John Taylor inilah yang rambutnya diikutin Lupus. 

 

Pada tahun 2015, beberapa media memutuskan tutup seperti Sinar Harapan dan Jakarta Globe. Lainnya memutuskan terjun ke dunia online atau memiliki dua lini yaitu cetak dan online. Seperti Tempo yang memiliki edisi digital yang bahkan lebih tebal dari versi cetaknya.

Hadirnya digitalisasi merubah cara penulisan berita. Dulu, aye pernah belajar jurnalisme. Saat itu yang tertanam di benak adalah jurnalis itu bawa pulpen, kamera dan alat rekaman. Habis acara, tulis berita setor foto. Besok terbit. Sekarang, cukup satu hape android yang udah ada kameranya. Kalaupun ada bawa DSLR plus laptop dan – off course – modem. Begitu selesai liputan langsung ketik berita dan upload. Bahkan, ada yang acara sedang berlangsung sudah muncul beritanya.

Digitalisasi juga merubah cara beriklan! Hari ini, perusahaan bisa beriklan melalui media sosial! Lebih terjangkau baik dari sisi pembaca maupun harga. Meskipun harga bisa didebati namun kecepatan dan paparan media cetak tidak bisa mengalahkan media digital. Selain itu konten pun bisa dibuat kreatif misalnya dengan animasi.

Balik ke topik, aye berharap Majalah Hai gak tutup. Karena mau ngenalin ke anak-anak. Bayangkan saja, satu dekade tumbuh remaja bersama Majalah Hai gimana gak berkesan. Bayangin, aye bisa berasa ada di Konser Metallica yang pake panggung snake pit hanya membaca report wartawannya. 

Selain itu berharap juga Majalah Intisari gak tutup. Itu majalah yang super legend. Bapak punya terbitan tahun 1968 sampai tahun 2000-an. I have grown up with them.

Leave a Reply